Thursday, January 16, 2014

Disney Princess



 



Selain Barbie, aku juga sangat menyukai semua tokoh di Disney Princess, karena mereka juga terlihat seperti Barbie yaitu sebagai seorang putri. Yang namanya sebagai putri pasti memiliki pangeran, dan diakhir cerita sang putri ini akan selalu hidup bahagia dengan pangerannya.

Disney Princess adalah media franchise yang dimiliki oleh The Walt Disney Company . Dibuat oleh Disney Consumer Products yang diketuai oleh Andy Mooney di akhir 1990-an, waralaba memiliki line-up dari pahlawan wanita fiksi yang telah muncul di berbagai Disney franchise .
 
Waralaba tidak benar-benar mencakup semua putri mencatat dari media Disney sebagai nama menyarankan, tetapi hanya beberapa anggota yang umum digunakan, terutama dari film animasi. Sebelas anggota saat ini waralaba adalah Putri Salju, Cinderella, Aurora, Ariel, Belle, Jasmine, Pocahontas, Mulan, Tiana, Rapunzel dan Merida. Franchise ini telah merilis boneka, menyanyi di sepanjang video, pakaian, dekorasi rumah, mainan dan berbagai produk lainnya yang menampilkan Disney Princesses.
Seperti apa sih karakter di Disney Princess ?

1.       Snow White (Putri Salju), adalah karakter pertama yang diciptakan dan asli Disney Princess. Dalam filmnya yang ditayangkan oleh Walt Disney yang berjudul “Putri Salju dan Tujuh Kurcaci”. Dia adalah seorang putri yang terlahir dengan kulit seputih salju, bibirnya merah seperti mawar, dan rambutnya sehitam kayu eboni. Putri salju memiliki seorang ibu tiri yang sangat kejam karena ibunya iri dengan kecantikan yang dia miliki. Putri salju mencari perlindungan di rumah tujuh kurcaci dari ibu tirinya.

2.       Cinderella, karakter kedua dari Disney Princess, filmnya dirilis pada tahun 1950. Cinderella sering dianggap sebagai “Pemimpin Disney Princesses”. Dimana dia memiliki seorang ibu tiri dan 2 orang saudari tiri yang memperlakukannya seperti pembantu di rumahnya sendiri. Kemudian dia bertemu dengan ibu peri sebelum datang ke pesta dansa pangeran, tetapi ketika tepat jam 12 malam, kondisinya berubah seperti semula. Dia juga terkenal dengan sepatu kacanya yang terlepas.

3.       Aurora, adalah karakter ketiga dari Disney Princess. Film pertamanya berjudul “Sleeping Beauty” (1959). Aurora memiliki kutukan yang diberikan oleh seorang penyihir yang tidak suka kepada keluarganya. Kutukannya berupa tertusuk jarum ketika usianya 17 tahun, dan ketika sudah tertusuk, Aurora akan tertidur selama 100 tahun dan akan terbangun kembali dengan datangnya cinta sejati.

4.       Ariel, adalah karakter keempat dari Disney Princess. Filmnya yang berjudul “The Little Mermaid” dirilis pada tahun 1989. Ariel adalah putri dari Raja Triton dan anak bungsu dari tujuh bersaudara. Dia melakukan suatu perjanjian dengan seorang penyihir laut yang bernama Ursula untuk merubah ekor duyungnya menjadi kaki manusia, tetapi Ariel harus kehilangan suaranya.

5.       Belle, adalah karakter kelima dari Disney Princess, film pertamanya yang berjudul “Beauty and The Beast” pada tahun 1991. Belle menggantikan ayahnya untuk tinggal di sebuah istana besar yang dihuni oleh seorang monster. Meskipun awalnya monster itu jahat kepadanya, tetapi lama-kelamaan monster itu baik kepada Belle. Monster itu adalah seorang manusia yang dikutuk oleh penyihir dan akan menjadi manusia kembali jika mendapatkan ciuman cinta sejatinya.

6.       Jasmine, adalah karakter keenam dari Disney Princess, filmnya yang berjudul “Aladdin” pada tahun 1992. Dia jatuh cinta dengan Aladdin ketika Aladdin menyamar sebagai seorang pangeran, dan membawanya terbang menaiki karpet ajaib. Jafar menggunakan sihir seorang jin untuk menggulingkan ayah Jasmine dari takhtanya. Aladdin yang merebut kembali takhta itu dari Jafar. Setelah kekalahan Jafar, Aladdin dan Jasmine pun menikah.

7.       Pocahontas adalah karakter ketujuh dari Disney Princess, filmnya yang berjudul “Pocahontas” pada tahun 1995. Pocahontas ditampilkan sebagai seorang wanita muda yang mulia, mandiri dan sangat spiritual. Dia mengungkapkan kebijaksanaan melebihi usianya dan menawarkan kebaikan dan bimbingan untuk orang-orang di sekelilingnya. Seorang petualang dan pecinta alam, di film itu dia tampaknya memiliki kekuatan gaib karena ia mampu berkomunikasi dengan alam, berbicara dengan roh, berempati dengan hewan dan memahami bahasa yang tidak diketahui.

8.       Mulan (Fa Mulan), adalah karakter kedelapan dari Disney Princess, filmnya yang berjudul “Mulan” pada tahun 1998. Film ini diadaptasi dari legenda Hua Mulan (386-534). Mulan bukanlah karakter gadis yang lembut, sopan santun, anggun, dan diam, tetapi dia adalah karakter yang spontan dan blak-blakan. Namun, keberanian, kecerdasan, dan tekad membantunya melewati petualangannya, di mana ia menyamarkan dirinya sebagai seorang prajurit laki-laki untuk berperang di tentara Cina di tempat ayahnya terluka.

9.       Tiana, adalah karakter kesembilan dari Disney Princess. Filmnya yang berjudul “Putri dan si Katak” pada tahun 2009 diadaptasi dari novel yang berjudul “The Frog Princess”. Tiana adalah terutama Afrika-Amerika pertama Disney Princess, digambarkan sebagai seorang wanita muda pekerja keras, ambisius, dan cantik yang tidak memiliki kepentingan cinta (pada awal film). Tinggal di New Orleans, Louisiana, sejak tahun 1920. Tiana berusaha untuk mencapai tujuannya membuka restoran sendiri. Namun, dia berubah menjadi katak setelah mencoba untuk memecahkan mantra dilemparkan oleh Bokor tentang Prince Naveen yang telah mengubah dirinya menjadi katak juga. Sepanjang film, pasangan harus memulai pencarian untuk menemukan cara untuk memecahkan mantra. 

10.   Rapunzel, adalah karakter kesepuluh dari Disney Princess. Filmnya yang berjudul “Tangled” pada tahun 2010. Seorang putri terlahir dengan rambut panjang keemasan ajaib. Rapunzel diculik dari orangtuanya pada masa kanak-kanak dan dibesarkan oleh Mother Gothel, seorang wanita tua yang memanfaatkan rambutnya untuk tetap muda dan cantik. Dikurung di sebuah menara yang tinggi selama delapan belas tahun, Rapunzel meminta bantuan seorang pencuri yang sedang dicari-cari yang bernama Flynn Rider untuk melihat lentera mengambang dalam waktu untuk ulang tahun yang kedelapan belas. 

11.   Merida, adalah karakter kesebelas dari Disney Princess, pertama kali muncul dalam film pixar “Berani” pada tahun 2012. Merida adalah putri berusia 16 tahun dari Ratu Elinor, yang memerintah kerajaan bersama Raja Fergus. Meskipun keinginan Elinor untuk melihat Merida sebagai wanita kerajaan yang tepat, Merida adalah seorang gadis ceroboh yang ingin mengendalikan nasib sendiri. Dia telah mengasah keahliannya dalam memanah dan merupakan salah satu pemanah paling terampil yang pernah dilihat. Dia juga terampil dalam pertempuran pedang dan cross-country horseriding pada kudanya, Angus. 

Tenyata Disney Princess itu sudah ada sejak pertengahan abad ke 20 sekitar tahun 1950’an. Pada tahun segitu orang tua kita juga belum dilahirkan. Usia Disney Princess lebih lama dari usia Barbie, tetapi sampai saat ini pun Disney Princess masih tetap disukai banyak orang.

Proposal Penelitian Sastra




Konflik-Konflik yang Dialami Tokoh-Tokoh Utama Dalam Film “Children of Heaven”      Karya Majid Majidi

 
 
Disusun Oleh :
Ulfa Yuanita Isyfari
NPM : 17611215
Kelas : 3SA03

METODOLOGI PENELITIAN SASTRA
 







BAB 1
PENDAHULUAN


1.1  Latar Belakang Masalah

      Karya sastra nampaknya tidak dapat terlepas dari kehidupan sehari-hari. Beberapa contoh karya sastra yang sering kita lihat sehari-hari adalah cerpen, puisi, novel, film, dan drama. Menurut Fananie (2000:6), “Sastra adalah karya fiksi yang merupakan hasil kreasi berdasarkan luapan emosi spontan yang mampu mengungkapkan kemampuan aspek keindahan yang baik yang didasarkan aspek kebahasaan maupun aspek makna”, dan menurut Semi (1988 : 35), “Struktur fiksi itu secara garis besar dibagi atas dua bagian, yaitu struktur luar (ekstrinsik) dan struktur dalam (intrinsik).
      Pada awalnya, film dan sastra merupakan media yang memiliki unsur-unsur tertentu untuk mencapai maksud dan tujuan si pencipta karya dalam berekspresi dan berapresiasi. Ketika film diproduksi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dalam bidang hiburan, sastra pun mengalami perkembangan yang sama. Dengan demikian, ada keterkaitan antara sastra dan film dalam industri yang sama, yakni industri hiburan. Awalnya, film dan sastra berdiri sendiri-sendiri karena dianggap memiliki kapasitas yang berbeda dalam proses produksinya. Pada perkembangan selanjutnya, keduanya mengadakan kerja sama untuk memenuhi tuntutan hiburan yang jauh lebih berkembang pula.
      Kemunculan sastra dalam dunia film merupakan salah satu perkembangan di bidang sastra yang pada awalnya tidak disangka-sangka. Sastra bisa berubah menjadi film, begitu juga dengan film yang bisa berubah menjadi karya sastra. Dalam kehidupan media massa, penggabungan antara dua kreativitas yang berbeda bahkan dianggap sebagai nuansa baru dalam bidang hiburan. Hal ini bisa dilihat dengan munculnya film-film yang dibuat berdasarkan kisah dalam sebuah karya sastra.
      Drama atau film merupakan karya yang terdiri atas aspek sastra dan aspek pementasan. Aspek sastra drama berupa naskah drama, sedangkan aspek sastra film berupa skenario. Rosari (2009) berpendapat bahwa, film merupakan media komunikasi sosial yang terbentuk dari penggabungan dua indra, penglihatan dan pendengaran, yang memiliki inti atau tema sebuah cerita yang banyak mengungkapkan realita sosial yang terjadi di sekitar lingkungan tempat dimana film itu sendiri tumbuh.
      Sebagai ide, sastra menjadi pijakan dasar dalam penulisan cerita film. Naskah puisi, novel, dan drama telah lama dipakai untuk merangsang imajinasi para penulis skenario dalam memuat film baru. Dalam konteks ini, sastra dapat diperlakukan sebagai radar yang bisa menunjukkan adanya inspirasi dan perkembangan baru dalam keperluan pembuatan film yang saat ini dikenal dengan sebutan Ekranisasi. Istilah Ekranisasi dimunculkan pertama kali oleh Bluestone (1957:5) yang berarti proses pemindahan atau perubahan bentuk dari sebuah novel ke dalam bentuk film. Berdasarkan asal katanya, Eneste (1991:60) mengartikan ekranisasi sebagai pelayarputihan (ecran dalam bahasa Prancis berarti layar). Lebih jauh, Eneste menyatakan bahwa ekranisasi merupakan proses perubahan pada alat yang dipakai, proses penggarapan, proses penikmatan, dan waktu penikmatan (1991:60-61).
      Cerita yang dituturkan dalam film bisa berasal dari banyak sumber, namun pada hakikatnya dibagi menjadi dua, yakni cerita asli dan cerita adaptasi. Cerita asli maksudnya film tersebut lahir dari buah pikiran penulisnya, sedangkan cerita adaptasi yakni sebuah film bersumber dari media lain yang kemudian dibuat menjadi sebuah film (Ade, 2009:42), salah satu media sumbernya adalah novel.                    
      Salah satu cerita asli yang dimaksudkan diatas adalah dalam film Yang berjudul “Children of Heaven”. Disebut cerita asli karena cerita dalam film ini tidak diadaptasi dari media manapun dan cerita ini lahir dari buah pikiran penulisnya. Children of Heaven adalah sebuah film dari Iran pada tahun 1997 menggunakan Bahasa Persia yang ditulis dan disutradarai oleh Majid Majidi. Film ini dinominasikan dalam Academy Award untuk kategori Film Berbahasa Asing Terbaik pada tahun 1998.
      Di dalam film ini, ada 2 tokoh utama yang menonjol dalam cerita, yaitu tokoh utama pria yaitu Ali (Amir Farrokh Hashemian) dan tokoh utama wanita yaitu Zahra (Bahare Seddiqi). Ali dan Zahra adalah sepasang adik kakak yang berasal dari keluarga yang sangat sederhana atau keluarga miskin. Ketika sepatu sekolah satu-satunya milik Zahra hilang, disitulah awal dari semua permasalahan terjadi.
      Film-film seperti ini memang tidak pernah lepas dari konflik-konflik yang terjadi pada alur ceritanya. Ada 3 macam konflik yang melibatkan manusia dalam kehidupan sehari-hari, yaitu konflik melawan alam, konflik antar manusia, dan konflik batin. Dalam hal ini, penulis tertarik untuk menulis proposal penelitian yang berjudul  “Konflik-Konflik yang Dialami Oleh Tokoh-Tokoh Utama dalam film Children of Heaven Karya Majid Majidi”. Pada  pembahasan selanjutnya, penulis hanya akan membahas tentang konflik antar manusia dan konflik batin yang dialami oleh tokoh utama, karena memang di dalam cerita tidak mengandung konflik antara tokoh utama melawan alam.



1.2  Perumusan Masalah

      Di dalam film Children of Heaven karya Majid Majidi, dapat dilihat bahwa banyak sekali konflik-konflik yang harus dialami oleh kedua tokoh utama Ali dan Zahra.
Perumusan masalah dalam penulisan proposal ini dapat dibagi menjadi 3 buah pertanyaan, yaitu sebagai berikut :

·         Konflik yang dialami tokoh utama dengan orang lain termasuk ke dalam konflik antar manusia. Dan konflik seperti apakah yang terjadi antara Ali dengan Zahra, Ali dengan ayahnya, Ali dengan gurunya, Ali dengan teman sekolahnya, dan Zahra dengan teman sekolahnya?
·         Konflik batin seperti apakah yang dialami oleh Ali dan Zahra kepada dirinya sendiri?
·         Dengan cara seperti apakah Ali dan Zahra mengatasi konflik-konflik yang terjadi tersebut?


1.3  Tujuan Penelitian

      Tujuan dari penelitian proposal ini adalah untuk mengetahui konflik seperti apakah yang terjadi antara Ali dengan Zahra, Ali dengan Ayahnya, Ali dengan Gurunya, Ali dengan teman sekolahnya, dan Zahra dengan teman sekolahnya. Serta untuk mengetahui konflik batin seperti apakah yang dialami oleh Ali dan Zahra kepada dirinya sendiri dan dengan cara apakah mereka mengatasi konflik-konflik tersebut.


1.4  Manfaat Penelitian

      Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat untuk orang lain, baik manfaat secara praktis maupun secara teoritis.

1.4.1 Manfaat Praktis
1.   Penelitian dari film Children of Heaven karya Majid Majidi ini dapat menambah referensi penelitian karya sastra dan membuka wawasan baru bagi para pecinta film anak-anak yang bernafaskan Islam.
2.   Penelitian ini diharapkan dapat membantu pembaca dalam mengungkapkan masalah atau konflik yang terkandung dalam film Children of Heaven.


1.4.2 Manfaat Teoritis
1.   Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan dalam mengaplikasikan pemikiran dan pengetahuan khususnya dibidang sastra.
2.   Hasil penelitian ini dapat bermanfaat untuk memperkaya penggunaan teori-teori sastra secara teknik analisis terhadap karya sastra.

 


BAB 2
ISI


2.1  Kajian Pustaka

      Kajian Pustaka berfungsi untuk memberikan pemaparan tentang penelitian sebelumnya yang telah dilakukan. Kajian terhadap hasil penelitian sebelumnya ini hanya akan dipaparkan beberapa penelitian sejenis yang berkaitan dengan permasalahan konflik-konflik yang terjadi dalam cerita.

1.      Agustina Artalia Putri (2010)
Dalam skripsinya yang berjudul “Analisis Konflik Batin Tokoh Utama dalam Kayoi No Guntai Karya Tsutsui Yasutaka”. Penelitian tersebut berkesimpulan berdasarkan analisis struktural, pendapat yang dikemukakan Thomas dan Kilmann (1974) digunakan untuk mengatasi konflik yang ada di dalam cerita, seperti competing (bersaing), collaboration (bekerja sama), compromising (berkompromi), avoiding (menghindari) dan accommodating (mengalah). Pengatasan konflik seperti ini sangat tepat digunakan dalam skripsi ini karena setting di dalam cerita terjadi di kantor dan di medan perang, cerita ini juga memiliki unsur kekerasan, dimana yang pada akhir cerita tokoh utama dimatikan perannya atau meninggal di medan perang.

2.      Imas Ratnasih Kusumawardhani (2010)
Dalam skripsinya yang berjudul “Marriage Conflicts of Maggie Walsh in Marian Keye’s “ANGELS” ”. Skripsi ini menjelaskan tentang masalah-masalah atau konflik yang terjadi di dalam kehidupan berumah tangga. Dimana konflik-konflik tersebut bermunculan tidak jauh karena masalah ego antara setiap pasangan, perbedaan pendapat, dan sebagainya.


2.2  Landasan Teori
           
2.2.1  Pengertian Konflik

        Konflik adalah suatu unsur sebagai hasil dari interaksi antarkarakter atau tokoh-tokoh yang dikisahkan. Interaksi antarkarakter memang tidak perlu menghasilkan konflik, tetapi penggawatan dan komplikasi tidak mungkin tercapai tanpa adanya konflik antartokoh. Justru unsur konfliklah yang menciptakan ketegangan, dan konfliklah yang memberikan peranan terbesar dalam menimbulkan keingintahuan pembaca atau penonton. Karena terdapat konflik antartokoh dalam narasi, maka usaha untuk menyelesaikan konflik itu memperoleh makna yang sesungguhnya. Peleraian terjadi bila semua konflik yang timbul sejak situasi awal sampai puncak penggawatan dapat diselesaikan dengan memuaskan.
        Telah dikemukakan bahwa sebuah narasi disusun dari rangkaian tindak-tanduk yang bertalian dengan sebuah makna. Makna ini hampir selalu muncul dari suatu pertikaian atau konflik kekuatan-kekuatan yang merangsang perhatian kita untuk melihat bagaimana situasi itu akan diselesaikan. Motivasi kemanusiaan kita dalam semua tipe pertikaian atau konflik merupakan dasar narasi yang sangat kuat, dengan demikian juga mengandung tenaga yang kuat untuk menarik perhatian pembaca. Semua hal menarik karena mengandung konflik, mengandung pertikaian yang mewarnai dan menjadi dasar pokok permasalahan itu.

2.2.2  Jenis-Jenis Konflik
         Konflik yang berkaitan dengan manusia menjadi faktor utama pertimbangan untuk mengangkat permasalahan itu dalam sebuah narasi yang dapat dibagi menjadi 3 macam :

1.   Konflik Melawan Alam
     Konflik melawan alam adalah suatu pertarungan yang dilakukan oleh seorang tokoh atau manusia secara sendiri-sendiri atau bersama-sama melawan kekuatan alam yang mengancam hidup manusia itu sendiri.

2.   Konflik Antar Manusia
     Konflik antar manusia adalah pertarungan seseorang melawan seorang manusia yang lain, seseorang melawan kelompok yang lain yang berkuasa, dan suatu kelompok melawan kelompok yang lain.

3.   Konflik Batin
Konflik batin adalah konflik yang disebabkan oleh adanya dua gagasan atau lebih atau keinginan yang saling bertentangan untuk menguasai diri sehingga mempengaruhi tingkah laku. Permasalahan hidup manusia biasanya timbul karena adanya pertentangan, baik yang timbul dari dalam diri pribadi manusia itu sendiri atau yang berasal dari luar dirinya. Pertentangan yang terjadi di dalam dirinya disebut juga dengan konflik batin. Konflik batin yang berlangsung lama bisa berdampak kepada perubahan sifat dan sikap manusia yang mengalaminya.

2.2.3  Unsur-Unsur Ekstrintik

Unsur Ekstrinsik adalah unsur yang membentuk karya sastra dari luar sastra itu sendiri. Salah satu unsur ekstrinsik dalam film Children of Heaven ini adalah masalah ekonomi. Dimana dalam film ini, tokoh utama berasal dari keluarga miskin yang hidupnya pas-pasan dan hanya mengandalkan upah dari penghasilan ayahnya yang hanya bekerja sebagai buruh serabutan. Jika tokoh utama tidak berasal dari keluarga miskin, mungkin tidak akan pernah ada konflik di dalam cerita, karena konflik di dalam cerita yang sebenarnya adalah dimulai dari hilangnya sepatu Zahra di pasar ketika Ali sedang memilih-milih kentang pesanan ibunya. Orang tua mereka tidak punya cukup uang untuk membelikan sepatu baru untuk Zahra, jadi mereka terpaksa harus bergantian memakai sepatu untuk pergi ke sekolah.
Selain itu masalah sosial juga terdapat di dalam film ini, dimana lingkungan sekitar tidak terlalu memperhatikan soal pendidikan bagi anak-anak yang berasal dari keluarga tidak mampu. Ali yang merupakan murid cerdas dan pintar di sekolahnya tidak mendapatkan perhatian khusus dari pihak sekolah dan juga tidak mendapatkan bantuan peralatan sekolah. Kalau untuk biaya sekolahnya, mendapat beasiswa atau tidak, penulis tidak dapat mengklarifikasikannya karena memang tidak disebutkan di dalam cerita tersebut. Bahkan ketika Ali sering terlambat datang kesekolah karena harus bergantian sepatu dengan Zahra, pihak sekolah tidak mau mempedulikannya dan pernah hampir mengusirnya dari sekolah karena alasan sering terlambat. Alasan tentang Ali harus bergantian sepatu dengan Zahra memang tidak diketahui oleh siapapun kecuali Ali dan Zahra. Oleh karena itu, pihak sekolah memperlakukannya dengan tidak adil.

2.2.4  Unsur-Unsur Intrinsik

            Unsur intrinsik adalah unsur yang menyusun sebuah karya sastra dari dalam yang mewujudkan struktur sebuah karya sastra. Unsur-unsur intrinsik dibagi dalam enam komponen, yaitu tema, alur cerita, latar cerita, tokoh, sudut pandang, serta amanat.

1.   Tema

          Tema merupakan suatu gagasan pokok atau ide pikiran tentang suatu hal, salah satunya dalam membuat suatu tulisan. Di setiap penulisan pasti memiliki sebuah tema, baik itu cerpen, novel, puisi, karya tulis, dan sebagainya. Tema juga hal yang paling utama dilihat oleh para pembaca sebuah tulisan, jika temanya menarik, maka akan memberikan nilai lebih pada tulisan tersebut.     
          Film Children of Heaven ini mengangkat tema “Kesabaran dan tanggung jawab anak-anak”. Film yang memfokuskan pada dunia anak-anak yang bernafaskan islam ini mengangkat tema yang sederhana namun penuh penyampaian pesan pendidikan dan moral yang tidak dibuat-buat.

2.   Alur Cerita

          Alur cerita atau peristiwa adalah rangkaian peristiwa yang dijalin untuk menggerakkan jalan cerita.
Jenis-jenis alur, yaitu sebagai berikut :
·   Alur maju adalah alur yang disusun berdasarkan urutan waktu (naratif) dan urutan peristiwa (kronologis).
·   Alur mundur adalah alur atau jalan cerita yang mengembalikan cerita ke masa atau waktu sebelumnya.
·   Alur campuran (flashback) adalah perpaduan alur maju dan alur mundur. Cerita bergerak dari bagian tengah, menuju ke awal, dilanjutkan ke akhir cerita.
   Alur yang digunakan dalam film Children of Heaven adalah alur maju yang dikemas dengan beberapa segmen yang divisualisasikan secara tepat sesuai dengan alur ceritanya.

3.   Latar Cerita

          Latar (setting) adalah elemen fiksi yang menunjukkan tempat dan waktu berlangsungnya cerita. Latar cerita dibagi menjadi 3, yaitu latar tempat, latar waktu, dan latar suasana.
·   Latar tempat dalam film ini  adalah di rumah keluarga Karim, sekolah Zahra, sekolah Ali, tempat sol sepatu, pasar, masjid, sirkuit lari marathon.
·   Latar waktu yang digunakan adalah pagi hari, siang hari, sore hari, dan malam hari.
·   Latar suasana yang mendukung film ini adalah sedih, takut, dan cemas.

4.   Tokoh

          Tokoh dalam karya sastra adalah sosok yang benar-benar mengambil peran dalam cerita tersebut.
Tokoh-tokoh yang terlibat di dalam film Children of Heaven adalah sebagai berikut :
·      Ali, anak sulung dari 3 bersaudara di keluarga Karim.
·      Zahra, anak kedua dari 3 bersaudara atau adik Ali.
·      Karim, seorang ayah dari 3 orang anak.
·      Ibunda Ali dan Zahra.
·      Guru-guru Ali di sekolah.
·      Pemulung buta.

5.   Sudut Pandang

          Sudut pandang adalah cara pengarang menampilkan para pelaku dalam cerita yang dipaparkan, Aminudin (1995:90). Sudut pandang di dalam film Children of Heaven menggunakan sudut pandang orang ketiga tunggal yaitu “dia dan sebutan nama tokohnya”.

6.   Amanat atau Pesan

          Banyak hal positif yang dapat diperoleh dalam film Children of Heaven, seperti tingkah laku dan sifat para tokoh-tokoh utamanya dalam menghadapi kehidupan yang tidak lebih dari cukup, namun mereka tidak pernah berhenti berharap, sabar, tidak mudah menyerah, tidak mengeluh, bertanggung jawab, mampu mengusir rasa ego masing-masing, lapang dada, berani berkorban, dan saling mengasihi.


  
  

BAB 3
METODOLOGI PENELITIAN

3.1  Metode Penelitian

      Penulisan proposal penelitian ini menggunakan metode deskriptif analisis. Menurut Ratna (2004:5), metode ini dilakukan dengan cara mendeskripsikan fakta-fakta yang kemudian disusul dengan analisis. Metode ini dipilih oleh penulis agar dapat menjelaskan konflik yang terjadi di antara kedua tokoh utama dengan orang-orang disekelilingnya, yaitu tokoh Ali dengan Zahra, Ali dengan ayahnya, Ali dengan gurunya, Ali dengan teman sekolahnya, dan Zahra dengan teman sekolahnya, serta konflik batin yang di alami Ali dan Zahra terhadap dirinya sendiri.
      Setelah menonton filmnya dan membaca sinopsisnya melalui internet, penulis mulai mengumpulkan dan meneliti bagian-bagian yang mendukung hipotesa. Penulis juga mencari referensi teori yang dapat dibuktikan melalui adegan-adegan dalam cerita tersebut. Kemudian data-data yang ada ditelaah lebih jauh untuk kemudian dicocokan dengan teori yang digunakan sebagai acuan.


3.2  Sumber Data

      Sumber data yang digunakan adalah buku-buku yang terdapat di Perpustakaan Kampus H, Universitas Gunadarma. Selain itu beberapa referensi pelengkap juga penulis dapatkan atau unduh dari internet.         


3.3  Sistematika Penulisan

      Proposal penelitian ini terbagi menjadi tiga bab. Bab 1 adalah bagian pendahuluan yang berisi latar belakang pemilihan judul penelitian oleh penulis, perumusan masalah, tujuan penelitian, dan manfaat penelitian.
      Bab 2 adalah bagian Isi yang terdiri dari kajian pustaka dari penelitian-penelitian sebelumnya yang memiliki judul atau tema penelitian yang hampir menyerupai dengan judul atau tema penelitian penulis. Bab 2 juga berisi landasan teori yang menjelaskan teori-teori yang berkaitan dengan apa yang akan diteliti oleh penulis. Teori tersebut yang akan mendukung penelitian penulis.
      Bab 3 adalah bagian metodologi penelitian, dimana bagian ini berisi metode penelitian yang menjelaskan tentang metode apa yang akan penulis gunakan untuk meneliti penelitiannya. Sumber data yang menjelaskan tentang darimana saja referensi yang penulis dapatkan untuk bahan-bahan penelitiannya. Selain itu, bab tiga juga berisi sistematika penulisan, teknik pengumpulan data, dan teknik analisis data.


3.4  Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam pembuatan penelitian ini, yaitu :

1.      Menonton film Children of Heaven melalui kaset DVD secara berulang-ulang supaya dapat memahami keseluruhan dari isi cerita. Hal ini penulis lakukan sebelum memutuskan masalah apa yang akan penulis teliti.

2.      Membuat sinopsis dari film Children of Heaven.


3.5  Teknik Analisis Data

1.      Menentukan tokoh mana saja yang menonjol atau tokoh utama dalam cerita tersebut. Untuk membatasi tokoh-tokoh yang akan diteliti secara mendalam sesuai dengan topik penelitian.

2.      Mencatat dalam adegan mana tokoh utama mengalami berbagai macam konflik. Hal ini dapat membantu penulis untuk mempermudah dalam menganalisis data tersebut.

   


DAFTAR PUSTAKA

Aminuddin, MPd. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. PT Sinar Baru Algensindo : Bandung.
Keraf, Gorys. 1982. Argumentasi dan Narasi. PT Gramedia Pustaka Umum : Jakarta.
Ratna, Nyoman Kutha. 2004. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Pustaka Pelajar : Yogyakarta.
Sutrisno, Hadi. 1991. Metodologi Research, Jilid 1, Edisi ke 23. Andi Offset : Yogyakarta.
Subiyanto, Ibnu. 1993. Metodologi Penelitian. Gunadarma : Jakarta.


Referensi Internet :