Monday, December 3, 2012

Hubungan Antara Manusia dan Kebudayaan


Hubungan diantara keduanya adalah manusia sebagai perilaku yang mencerminkan kebudayaan dan kebudayaan merupakan objek yang dilaksanakan oleh manusia itu sendiri. Manusia adalah makhluk ciptaan Allah SWT yang paling sempurna karena manusia merupakan satu-satunya makhluk yang memiliki akal dan budi pekerti. Manusia juga merupakan makhluk sosial yang tidak dapat berdiri sendiri dan saling membutuhkan satu sama lain.

Manusia dapat dikategorikan sebagai makhluk yang memiliki jiwa dan raga dan juga memiliki jasad, ruh, hayat, dan akal pikiran.

Hakikat Manusia, meliputi :
·         Manusia sebagai makhluk sosial
·         Manusia sebagai makhluk individu
·         Manusia sebagai makhluk religious
Sedangkan, kebudayaan selalu dimiliki oleh setiap manusia baik secara individu maupun dalam kehidupan bermasyarakat dan kebudayaan merupakan semua hasil dari karya, rasa, dan cipta masyarakat serta kebiasaan-kebiasaan yang dimiliki oleh manusia, seperti pengetahuan, organisasi, religi, bahasa, dan kesenian.

Hakikat Kebudayaaan, meliputi :
·         Kebudayaan yang bersifat ideal
·         Kebudayaan yang bersifat kompleks
·         Kebudayaan yang bersifat bentuk
Dalam ilmu sosiologi, manusia dan kebudayaan dinilai sebagai dwitunggal, artinya bahwa walaupun keduanya berbeda tetapi keduanya merupakan satu kesatuan yang kokoh. Kebudayaan dapat tercipta berdasarkan kejadian dan kegiatan manusia dalam kehidupan sehari-hari yang dialami. Jadi, manusia dan kebudayaan adalah dua hal yang memiliki ikatan yang tidak dapat dipisahkan didalam kehidupan karena manusia dapat menciptakan kebudayaannya sendiri dan melestarikannya secara turun temurun supaya dapat menjadi warisan kebudayaan untuk generasi berikutnya.

Dari sisi lain, hubungan antara manusia dengan kebudayaan dapat dipandang seimbang dengan hubungan antara manusia dengan masyarakat yang dinyatakan sebagai dialektis, artinya saling terkait satu sama lain. 

Proses Dialektis terjadi melalui 3 tahap, yaitu :

·  Ekstemalisasi, yaitu proses dimana manusia dapat mengekspresikan dirinya dalam membangun dunia atau kehidupannya.
· Obyektisasi, yaitu proses dimana masyarakat menjadi masyarakat yang realitas obyektif, artinya suatu kenyataan yang terpisah dari manusia dan berhadapan dengan manusia yang lain. Jadi, masyarakat dengan segala pranata sosialnya dapat mempengaruhi bahkan membentuk perilaku manusia itu sendiri.
· Intemalisasi, yaitu proses dimana masyarakat disergap atau dikepung oleh manusia, yang artinya bahwa manusia telah mempelajari kembali masyarakatnya sendiri supaya mereka dapat hidup dengan baik.